Saturday, September 02, 2017

Naskah Drama Kerajaan Kutai (Hindu)

Alkisah, pada waktu dunia masih berumur 4 abad. Terdapat kerajaan bercorak hindu yang terletak di muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu Sungai Mahakam.
Kudungga raja pertama dari kerajaan kutai yang pada saat itu beru saja masuk agama hindu telah tengah melakukan ritual kelahiran anaknya dengan para brahamana
Kudungga : sebentar lagi aku memiliki seorang penerus tahta kerajaan ini. Segera siapkan upacara kelahiran anak ku
Brahmana :  siap paduka raja
Setelah Kelahiran putra mahkota
Brahmana : puja dewa siwa, anak anda akan menjadi penerus tahta kerajaan yang gagah dan berani seperti dewa matahari paduka
Kudungga : baiklah aku akan berikan nama yang mencerminkan nama dewa matahari.
Brahmana :  bagaimana kalua namanya Aƛwawarman yang mulia
Kudungga : nama yang bagus pendeta Brahmana. Baklah pengawal segera sebarkan berita baik ini keseluruh penghuni istana
Pengawal : Baik yang mulia raja
Waktu terus berlalu aswawarman pun tumbuh menjadi laki-laki yang pantas untuk melanjutkan tahta raja kudungga. Hingga akhirnya raja kudungga wafat dan aswawarman pun dinobatkan sebagai raja kerajaan kutai.
Aswawarman : hai, para rakyatku sebelumnya ayahku raja kudungga telah memerintah kerajaan ini dengan sangat baik, adil dan bijaksana. Maka aku aswawarman akan meneruskan kejayaan kerajaan ini.
Rakyat : hidup raja aswawarman, hidup raja aswawarman
Aswawarman pun memimpin kerajaan kutai dengan sangat adil hingga aswawarman mendapat julukan sebagai raja yang sangat mulia.
Didalam istana kerajaan
Tabib : yang mulia raja hamba ingn melapor
Aswawarman : ada apa tabib ?
Tabib : hamba ingin melaporkan kabar gembira pada yang muliia raja. Bahwa permaisuri sedang mengandung anak paduka raja yang ketiga
Brahmana : puja dewa siwa sungguh beruntung paduka yang mulia. Hamba rasa anak paduka ini akan menjadi raja yang dapat membawa kejayaan bagi kerajaan ini.
Aswawarman : sungguh dewa berbaik hati kepadaku. Pengawala segera adakan upacara untuk menyambut kelahran anakku.
Pengawal : baik yang mulia
 Beberapa bulan kemudian.
Pengawal : yang mulia tabib istana menyuruh hamba untuk melaporkan bahawa anak paduka raja telah lahir.
Aswawarman : Brahmana siapkan upacara pemberian nama anakku
Brahmana : baik baginda, nama apa yang akan baginda berikan ?
Aswawarman : Mulawarman. Aku berharap dengan nama mulawarman ini akan menjadikan kerajaan kutai lebih besar dan dapat memakmurkan rakyat kutai.
Brahmana : nama yang indah paduka raja. Baklah  Hamba mohon undur diri untuk mempersiapkan upacara pemberian nama.
Setelah kelahiran anaknya raja aswawarman sedangkan berpikir seberapa besar batas wlayah kerajaan kutai yang dia pimpin.
Aswawarman : Brahmana. Bagaimana raja-raja di india menentukan kekuasaan wlayahnya?
Brahmana : di India pada masa pemerintahan Raja Samudragupta ketika ingin memperluas wilayahnya dilaksanakan pelepasan kuda dengan tujuan untuk menentukan batas kekuasaan Kerajaan ( ditentukan dengan tapak kaki kuda yang nampak pada tanah hingga tapak yang terakhir nampak disitulah batas kekuasaan Kerajaan ).lalu  Pelepasan kuda-kuda itu diikuti oleh prajurit yang mulia
Aswawwarman : baiklah segera laksanakan upacara tersebut dan akan ku namai upacara tersebut dengan nama asmawedha
Pengawal dan Brahmana : kami siap melaksanakannya paduka.

Hari demi hari, tahta kerajaan pun berganti dengan meninggalnya raja aswawarman .tahta pun diserahkan pada mulawarman. Mulawarman  tumbuh menjadi raja yang besar,  serta dermawan bagi kerajaan  kutai. Rakyat-rakyatnya hidup tentram dan sejahtera. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Kutai mengalami masa kejayaannya. dan Sebagai bentuk kebesaran raja mulawarman. Nama Mulawarman dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi pada Kaum Brahmana. Namun kejayaan mulawarman tak pernah bisa diulangi para penggantinya.
Kerajaan kutai terus berganti tahta dari Marawijaya Warman, Gajayana Warman, Tungga Warman, Jayanaga Warman, NalaSinga Warman, Nala Parana Tungga, Gadingga Warman Dewa, Indra Warman Dewa, Sangga Warman Dewa, CandraWarman, Srilangka Dewa, Guna Parana Dewa, Wijaya Warman, Sri Aji Dewa, Mulia Putera, Nala Pandita, Indra Paruta Dewa sampai pada Dharma Setia
Raja demi raja telah silih berganti memimpin kerajaan kutai, masalah demi masalah telah dilalui namun tak ada yang abadi di dalam dunia ini hingga akhirnya kerajaan kutai runtuh saat raja Maharaja Dharma Setia tewas di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Kerajaan Kutai selanjutnya menjadi Kerajaan Islam yang bernama Kesultanan Kutai Kartanegara.
Sekian

No comments:

Post a Comment

Night Mode