Wednesday, December 26, 2018

RESENSI Buku Presiden Prawiranegara (Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia)

Judul               :  Presiden Prawiranegara
                          Kisah 207 Hari Syafruddin
                          Prawiranegara
                          Memimpin Indonesia
Penulis             : Akmal Nasery Basral
No. ISBN          : 9789794336137
Penerbit           : Mizan
Tanggal terbit   : Maret – 2011
Tebal buku         : 400
Kategori          : Memoar

RESENSI Buku Presiden Prawiranegara (Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia)Walau hanya sesaat, seorang presiden tetaplah sosok yang pernah memimpin bangsa ini! Untuk itu , sosok Syafruddin Prawiranegara  seyogyanya dikenang dan dihormati. Banyak yang tidak mengenal sosoknya, apalagi kaum muda saat ini. Padahal  beliau sangat berjasa bagi bangsa kita, dari sisi pemerintahan dan ekonomi.

Buku ini berisi cerita yang dituturkan oleh seorang anak pribumi bernama Kamil Koto. Sungguh beruntung dia. Walau sebentar, ia sempat berada dekat bahkan memijat salah satu putra bangsa kita,  Presiden Syafruddin Prawiranegara.  Dengan  mengharukan,  Kamil Koto  berbagi kisah  seputar Presiden Syafruddin Prawiranegara, yang selama 207 hari  menjadi nahkota bagi republik ini.  Sebuah perjuangan yang mungkin terlupakan, namun sangat penting bagi kelangsungan bangsa ini.

Dalam buku  ini peristiwa berdirinya PDRI teruraikan  dengan detail. Sejak  kedatangan Bung Hatta pada November 1948 ke rumah Syafrudin Prawiranegara di Jogya yang menugaskan Syafruddin untuk berangkat ke Bukittinggi sesuai dengan kapasitasnya selaku Menteri Kemakmuran. Saat itu hanya Yogya, Bukittinggi, dan Aceh yang bukan merupakan bagian negara federal bentukan Van Mook. Jadi tiga tempat itulah yang merupakan benteng pertahanan Republik. Pada 19 Desember 1948  terjadi Agresi Militer II. Bung Karno dan Bung Hatta  mengantisipasi jika mereka tertangkap dengan membuat rencana untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatera yang akan dipimpin oleh Mr. Syafruddin Prawiranegara.

Dua buah kawat yang memberikan mandat kepada Syafruddin untuk membentuk pemerintahan darurat segera dibuat untuk dikirimkan, satu ditujukan kepada Mr. Syafrudin, dan satu lagi untuk Drs, Sudarsono selaku dubes RI di India dan Mr Alex Maramis selaku menteri Keuangan yang saat itu sedang bertugas di New Delhi.  Tapi apa mau  kantor Pos & Telegram serta RRI sudah dikuasai Belanda. Sehingga  kedua kawat tersebut tak sempat terkirimkan

PDRI ini sngkatan dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia, dideklarasikan untuk melanjutkan pemerintahan Republik Indonesia setelah Bung Karno dan Bung Hatta ditangkap tentara Belanda beberapa hari lalu di Yogyakarta. Para pejuang terbaik bangsa kita memutuskan bahwa pemerintahan harus dilanjutkan meskipun dari tempat terasing seperti kebun teh ini.

Situasi di Bukittinggi  juga kian  membahayakan. Belanda nyaris berhasil menguasai kota.  PDRI sepakat untuk membumihanguskan kota itu sedangkan Syafruddin dan seluruh pimpinan PDRI mengungsi ke sebuah tempat terpencil di tengah rimba Sumatera. Guna  menjalankan pemerintahan. Selama dalam pengungsian pemerintahan tetap berjalan dengan melakukan banyak koordinasi melalui  Radio AURI

Sosok Kamil Koto, tidak  saja mengajak kita mengikuti tapak tilas perjuangan para putra terbaik bangsa kita, namun juga pergolakan bathin para anak manusia serta metamorfosis seorang preman pasar menjadi pejuang dan pengusaha sukses. Bagaimana  pengorbanan tanpa pamrih dilakukan dengan  nekat kuat demi sebuah  tujuan mulia, KEMERDEKAAN!

Kita memang mendapat banyak hal dari buku ini, selain peristiwa sejarah yang nyaris dilupakan. Saat sekolah, saya hanya tahu Peristiwa Bandung Lautan Api dan Agresi Militer Belanda. Melalui buku ini, saya jadi tahu ada pembumihangusan Bukittinggi. Juga bagaimana peristiwa Agresi Militer Belanda dengan lebih lengkap,serta tak ketinggalan kisah bagaimana perjuangan Jendral Besar Sudirman memimpin gerilya dari atas tandu yang legendaris.

Kisah mengenai Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang mengendarai mobil menjemput Bung Hatta membuat saya terseyum. Wajar jika Bung Hatta terkejut! Status Sultan adalah sebagai raja sedangkan mereka adalah tamu. Dan biasanya seorang raja tidak mengendarai mobilnya sendiri apalagi saat itu situasi sedang genting.

Bonus kisah bagaimana  sempat terjadi keributan kecil antara pemimpin bangsa kita, menunjukkan betapa kuatnya tekanan yang harus mereka hadapi. Biar bagaimana mereka juga manusia biasa yang kadang kesal dan punya amarah. Hanya tekat kuat dan semangat lah yang bsai mempersatukan mereka

 Selama era kemerdekaan, Sjafruddin pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Keuangan, dan Menteri Kemakmuran. Saat menjabat sebagai  Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta pada 10 Maret  1950 , beliau mengeluarkan  kebijakan yang dikenal dengan nama Gunting Sjafruddin . Kebijakan itu berupa memotong uang bernilai Rp 5 lebih hingga separuh.

Menurut kebijakan itu, "uang merah" (uang NICA) dan uang De Javasche Bank dari pecahan Rp 5 ke atas digunting menjadi dua. Guntingan kiri tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai setengah dari nilai semula sampai tanggal 9 Agustus pukul 18.00.

Mulai 22 Maret - 16 April, bagian kiri itu harus ditukarkan dengan uang kertas baru di bank dan tempat-tempat yang telah ditunjuk. Lewat tanggal tersebut, maka bagian kiri itu dianggap tidak berlaku lagi. Guntingan kanan dinyatakan tidak berlaku, tetapi dapat ditukar dengan obligasi negara sebesar setengah dari nilai semula, dan akan dibayar empat puluh tahun kemudian dengan bunga 3% setahun. Kebijakan ini juga berlaku bagi simpanan di bank. Pecahan Rp 2,50 ke bawah tidak mengalami pengguntingan, demikian pula uang ORI (Oeang Republik Indonesia).

Sjafruddin menjadi Gubernur Bank Sentral Indonesia yang pertama tahun 1951. setelah sebelumnya menjabat sebagai  Presiden Direktur Javasche Bank yang terakhir.  Bersama Oei Beng To, beliau  menulis buku Sejarah Moneter
Beliau meninggal dunia, 15 Februari 1989 di Jakarta

RESENSI NOVEL Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan

RESENSI NOVEL SEJARAH

Judul : Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Penulis : Suhartono
Penerbit : Kompas
Tahun: 2013
Genre : Sosial & Politik
Tebal : 142 Halaman 
ISBN: 978-979-7097-69-1

RESENSI NOVEL Hoegeng; Polisi dan Menteri TeladanInstitusi kepolisian tak henti-hentinya menjadi sorotan. Lihat saja adanya rekening "gendut" pimpinan Polri, tindakan pencucian uang, kepemilikan narkoba, isu suap kenaikan pangkat, dan persoalan-persoalan indisipliner anggota kepolisian. Ini semua semakin menjatuhkan citra Polri di mata masyarakat.

Polri seharusnya sebuah korps yang memiliki integritas, disiplin, dan profesional dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Polri seharusnya juga lembaga yang antikorupsi, antisuap, dan anti persekongkolan. Polri harus selalu menjadi garda depan dalam menindak setiap kejahatan.

Dalam perjalanan sejarahnya, Polri telah melahirkan tokoh polisi yang bersahaja, disiplin, jujur, tak mau kompromi, dan tak gampang tergiur harta. Dia tidak memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan sendiri. Dialah Hoegeng.

Tentang Hoegeng ini, mendiang mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) punya statement khas dan menarik. Menurut Gus Dur, di Indonesia ini, hanya ada tiga polisi yang jujur alias tak bisa disuap, yakni patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.

Hoegeng yang dimaksud Gus Dur adalah almarhum Jenderal (Pol) Hoegeng Iman Santoso, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) di masa transisi Orde Lama menuju Orde Baru. Ia adalah sosok teladan seorang polisi yang menjaga integritasnya sampai akhir hayat. Sebagai polisi, Hoegeng dikenal jujur, sederhana, dan tak kenal kompromi.

Hoegeng tidak aji mumpung meskipun menjadi pemimpin dan pejabat negara. Dia tidak memanfaatkan jabatannya untuk memberi surat izin bagi putranya menjadi taruna ABRI ketika itu, atau kemudahan bagi putrinya untuk sekadar lolos di perguruan tinggi negeri dengan fasilitas jabatannya. Hingga wafatnya pada 14 Juli 2004, Hoegeng tidak memiliki rekening gendut. Ia hanya memiliki uang pensiun.

Itulah sebagian kisah yang diceritakan dalam buku Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan yang ditulis dari penuturan bekas asisten dan sekretaris pribadi Hoegeng, Soedharto Martopoespito. Ketika itu, Hoegeng menjadi menteri/sekretaris presidium kabinet pada periode Maret 1966 hingga Juli 1966, hingga persinggungannya saat Hoegeng menjabat Wakapolri dan kemudian Kapolri (1968–1971).

Sang asisten baru berkisah setelah 48 tahun kemudian, setelah pensiun, dan Hoegeng sudah meninggal. Kekhasan pribadi Hoegeng sangat membekas. Tak heran kebiasaan Hoegeng terekam dengan baik. Misalnya, dia tak mau dikawal dan tidak mau mengambil jatah beras. Pribadi Hoegeng ini membuat rikuh para kolega, apalagi anak buahnya, karena perilakunya lurus dan antikorupsi.

Sang istri, Meriyati Roeslani (Meri), memiliki pengertian yang luar biasa akan prinsip hidup suaminya. Saat Hoegeng menjabat sebagai kapolri, ia tak mengizinkan istrinya menjadi Ketua Umum Bhayangkari, yang biasa dijabat istri kapolri. Hoegeng berkata kepada istrinya, "Hoegeng ini komandan polisi di Indonesia, tetapi Meri bukan komandan dari istri-istri para polisi," (halaman 91).

Kepada anak-anaknya, Hoegeng juga bersikap tegas dan tanpa kompromi. Dia tak ingin anak-anaknya hidup manja dan menggantungkan diri pada jabatan ayahnya. Untuk mengajarkan kemandirian dan kerja keras, Hoegeng mengizinkan anak-anaknya berjualan koran dan kue. Anak kedua Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng, tak pernah merasakan fasilitas negara (halaman 72).

Sebagai pejabat negara dan mantan Kapolri, Hoegeng tak memiliki apa-apa sampai wafatnya, kecuali kejujuran itu sendiri. Kisah hidup dan teladan Hoegeng Iman Santoso tentu bisa menjadi cermin perlunya sosok polisi yang bersahaja, terbuka, jujur, profesional, tanpa kompromi, dan anti-KKN. Keteladanan seorang polisi seperti Hoegeng diperlukan untuk mendorong perubahan.  

Saturday, October 13, 2018

RESENSI BUKU Dari Puncak ANDALUSIA

RESENSI BUKU Dari Puncak ANDALUSIAJudul buku            : Dari Puncak ANDALUSIA
Penulis                  : DR. TARIQ SUWAIDAN
Penerbit                : Zaman
Penerjamah           : Zainal Arifin
Penyunting            : Chairul Ahmad
Pembaca proof     : Arif Sarwani
Pewajah isi           : Nur Aly
Desainer sampul   : Altha Rivan
Cetakan 1             : 2015
Jumlah halaman     : 720
Terbit                    : Februari 2015 

Sinopsis :
Sebelum bernama Spanyol,dulunya daerah ini bernama Andalusia.Tepatnya pada tahun 92 H/711 M,pasukan muslim mulai masuk ke Spanyol di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad.Peperangan dan perjanjian dilalui.Perang  penaklukkan antara pasukan Muslim dengan kaum Vandal dan Visigoth.Kaum Vandal menguasai Spanyol sejak abad 5-10 M.Sedangkagn Kaum Visigoth yang berasal dari Jerman menguasai selama 3 abad hingga permulaan abad ke 16 M.Dari mana kaum Vandal kemudian daerah yang kini bernama Spanyol dinamakan Vandalusia,kemudian orang Arab menyebutnya Andalusia. Setelah berakhirnya Dinasti Umayyah di Timur,kaum Umayyah terus diburu oleh Bani Abbasiyah yang naik takhta.Pelarian Kaum Umayyah inilah yang kemudian Berjaya di Eropa. Mereka mendirikan kelanjutan Khilafah Umayyah di Andalusia dan menerangi Eropa yang sebelumnya gelap gulita. Orang yang berperan dalam hal ini adalah Abdurrahman ad-Dakhil . Kepemimpinan Khilafah Umayyah di Andalusia terus berlanjut hingga masa pimpinan Abdurrahman al-Nashir. Di bawah kepemimpinannya Andalusia mencapai zaman keemasannya. Abdurrahman al-Nashir mampu menstabilkan situasi dan kondisi Andalusia. Setelah itu dia mengokohkan pilar-pilar pemerintahan agar dinastinya berdiri kuat.

Ada enam raihan prestasi puncak peradaban Andalusia di bawah kepemimpinan Abdurrahman al-Nashir. Pertama prestasi dalam sisi politik. Banyak delegasi-delegasi negara lain yang berdatangan ke Kordoba untuk menjalin hubungan baik dan kerja sama politik dengan Andalusia. Seperti Bizantium Timur (Konstantinopel). Kedua, prestasi dari sisi sosial. Rakyat bisa menikmati beragam makanan, pakaian, nyanyian dan musik. Rakyat Andalusia menjadi senang berpesta pora. Orang yang membawa kebiasaan tersebut adalah Zaryab. Sayangnya, karena hal ini rakyat Andalusia menjadi lalai. Mereka banyak yang lupa bahkan jauh dari Islam. Banyak ulama yang mencoba memerangi hal ini agar Andalusia tidak menjadi lemah dan jatuh, seperti al-Mundzir bin Sa’id al-Baluthi . Ketiga, prestasi dalam pembangunan infrastruktur. Kordoba pada saat itu adalah kota yang besar dan penduduknya mencapai angka setengah juta jiwa. Selain Baghdad, tidak ada kota lain yang lebih besar dari itu. Untuk menampung masyarakat Kordoba, dibangunlah ada 13 ribu unit rumah dan didirikan juga 3.000 masjid. Keempat, prestasi dalam administrasi pemerintahan. Abdurrahman al-Nashir membagi Kordoba menjadi 28 distrik. Penugasan apparat kepolisian dibagi dua waktu, malam dan siang hari. Penugasannya juga berbeda, seperti mengawasi dan mengawal pedagang. Sistem peradilan juga mendapat perhatian dari Abdurrahman al-Nashir. Dibuatlah syarat bagi calon pejabat peradilan, semua etnis boleh menjadi menjadi pejabat peradilan, tidak hanya orang Arab. Abdurrahman al-Nashir tidak menyukai fanatisme dan nepotisme. Kelima, prestasi dari sisi ekonomi. Di bawah kepimpinan Abdurrahman al-Nashir bidang pertanian berkembang pesat. Berbagai tanaman buah-buahan tumbuh subur, seperti tebu, padi, zaitun, dan delima. Pada masa inilah juga dibuat kalender pertanian untuk setiap musim yang kemudian diadopsi oleh Eropa .

Terakhir prestasi dari sisi budaya. Al-Nashir dikenal mencintai ilmu dan ulama. Ada 70 perpustakaan di Andalusia, dan setiap perpustakaan ada 400 judul buku. Di Kordoba, al-Nashir mendirikan 27 sekolah gratis bagi kalangan miskin dan jelata. Ada banyak ulama yang masyhur kala itu salah satunya adalah al-Qadhi Abdullah Muhammad bin Muhammad, yang menimba ilmu dari 236 syaikh.

Dengan prestasi gemilang di atas, tak heran jika Andalusia disebut sebagai mutiara dunia (halaman 277). Andalusia telah menorehkan sejarah yang sangat berperan atas terbentuknya peradaban Eropa saat ini. Dalam buku  720 halaman ini DR. Tariq tidak hanya menulis masa kejayaan Umat Islam di Andalusia, tetapi juga menulis masa-masa akhir yang terpuruk. Sebuah buku yang menarik, karena menginspirasi dan sarat perenungan.

ALIYATUL FITRIPROFIL PERESENSI

Nama               : ALIYATUL FITRI
Kelas               : X IPS 3
No. absen        : 03
Sekolah           : SMA Negeri 1 Brebes

RESENSI Runtuhnya Hindia Belanda

RESENSI Runtuhnya Hindia Belanda
Judul buku     : Runtuhnya Hindia Belanda 
Penulis           : Onghokham
Penerbit         : PT Gramedi Jakarta 
Tebal Buku    : 291 Halaman 

Sinopsis : Saya memilih untuk menulis resensi “runtuhnya hindia belanda” karena buku tersebut adalah skripsinya saat dia menjadi mahasiswa jurusan sejarah Universitas Indonesia. Onghokham menggunakan paradigma historiografi kolonial—penulisan sejarah yang dilihat dari sudut “nederlandocentris”—bukan penulisan sejarah indonesia dari sudut indonesia centris yang lebih sering digunakan. Didalamnya banyak sekali info (fakta) sejarah yang (hampir) tidak pernah dibicarakan dalam pelajaran sejarah, seharusnya buku ini jadi bacaan wajib para pelajar Indonesia. Bagian terakhir dari buku ini sangat sangat sangat menarik karena Onghokham memberikan kronologi hari-hari terakhir pemerintah hindia belanda berkuasa dengan gaya bercerita yang dramatis.

Salah satu hal yang saya ketahui bahwa indonesia dijajah belanda bukan selama 3,5 abad tetapi sekitar seratus tahun lebih, indonesia secara resmi dijajah pemerintah hindia belanda tahun 1930 (pemberlakuan taman paksa oleh gubernur jenderal van de bosch) sampai tahun 1942—pemerintah hindia belanda menyerah kepada jepang. Namun menurut Onghokham, sejak 1942, indonesia dapat dikatakan selalu dalam keadaan “vivere pericoloso” atau transisi, revolusi, perang saudara, konfrontasi dengan belanda tentang irian, inflasi, konfiskasi milik belanda yang berarti pengambilalihan ekonomi kolonial ke tangan indonesia dengan segala akibatnya, seperti inflasi, pemotongan uang (sanering) dan lain sebagainya. Keadaan ini mungkin akan berlaku sampai 1972 (oil boom prices).

Buku ini secara jelas banyak membahas mengenai menyerahnya belanda kepada Jepang pada bulan Maret 1942 teah dianggap sebagai titik terakhir dari kekuasaan kolonialnya di Indonesia yang telah berlangsung selama tiga abad. Namun tanpa peristiwa itu pun, sesungguhnya awal dari proses runtuhnya kekuasaan colonial Belanda di Indonesia telah Nampak sejak permulaan abad ini ketika benih-benih nasionalisme Indonesia modern mulai menampakkan dirinya. Proses itu makin nyata pada pertengahan tahun 1920-an hingga awal tahun 1940-an dengan munculnya aspirasi dan gerakan-gerakan nasionalis yang dengan tegas menuntut kemerdekaan Indonesia. Situasi Internasional yang ditandai oleh Perang Dunia II, melalui dimana Jepang mengambil alih kekuasaan Belanda di Indonesia selama tiga setengah tahun, hanyalah merupakan factor yang mempercepat proses keruntuhan tersebut yang sudah berakar jauh sebelumnya.

Dalam buku ini, DR. Onghokham menguraikan proses tersebut dengan menganalisis berbagai factor yang mempengaruhinya, baik factor dalam negeri Indonesia maupun factor-faktor Internasional, termasuk juga perkmbangan politik di Negeri Belanda Sendiri.

Kekayaan informasi dan analisis kritis yang terkandung didalamnya, membuat buku ini perlu dibaca oleh mereka-mereka yang ingin mempelajari seuatu periode yang sangat menentukan dalam sejarah bangsa Indonesia.

Kekurangan : Yang menjadi kelemahan dalam buku ini adalah tidak ada pengantar dari orang ahli untuk menjelaskan secara singkat mengenai isi dari buku ini.     

Kelebihan : Yang menjadi kekuatan dari buku ini adalah buku ini memang memusatkan perhatian pada masa-masa akhir dari kekuasaan Belanda di Indonesia yaitu menjelang Perang Dunia Kedua hingga saat menyerahnya Belanda kepada Jepang di Indonesia pada bulan Maret 1942, namun sebagai latar belakang diuraikan juga situasi di Hindia Belanda sejak permulaan abad 1920 hingga akhir tahun 1930-an. Sehingga bisa memberikan pemahaman bagi pembaca mengenai munculnya aspirasi-aspirasi nasionalisme Indonesia dan gerakan-gerakan nasional tahun 1920-an dan 1930-an guna mewujudkan aspirasi tersebut serta baimana “reaksi” pemerintah Hindia Belanda menghadapinya.
Kekuatan lainya adalah buku ini dilengkapi oleh gambar-gambar.


PROFIL PERESENSI
Saskia Paramitha Nugrahaeni









Nama        : Saskia Paramitha Nugrahaeni
No.Absen : 31
Kelas        : X IPS 3
Sekolah    : Sma Negeri 1 Brebes

RESENSI NOVEL SEJARAH : AROK DEDES

RESENSI NOVEL SEJARAH : AROK DEDES➢ Judul         : Arok Dedes 
➢ Penulis     : Pramoedya Ananta Toer 
➢ Penerbit   : Lentera Dipantara (Jakarta) 
➢ Ketebalan: 578 
➢ Peresensi : Putri Aulia Lafifa 
                      Vindy Mitavianna

➢ Sinopsis  : Novel ini mencoba memberikan suatu perspektif pandang baru terhadap sejarah dengan menggambarkan Ken Arok bukan hanya seorang berandalan pemberontak, seperti yang banyak dikatakan buku pelajaran sejarah, tetapi disini diceritakan bahwa Ken Arok adalah seorang pemimpin rakyat yang tidak puas dengan pemerintahan yang menindas. Novel ini juga menggambarkan kondisi pemberontakan yang terjadi di dalam suatu negara atau kerajaan yang sarat dengan intrik politik.  

➢ Kelebihan: Yang menarik dari roman ini adalah kecerdasan penulis dalam mengangkat kompleksitas permasalahan dengan lancar, mengalir dan membangun suasana. Dimulai dari latar belakang Arok, seorang sudra yang tidak jelas asal usulnya namun menjelma jadi seorang Ksatria dan Brahmana sekaligus. Arok juga merupakan perpaduan yang unikantara penganut Shiwa, Wisnu dan Budha, karena dalam perjalanan hidupnya dia belajar dari beberapa guru yang berbeda keyakinan.  

➢ Kekurangan: Plot cerita Arok Dedes Pramoedya jauh berbeda dengan kisah pembuatan keris oleh empu Gandring yang memakan korban sampai tujuh turunan. 

Saturday, September 29, 2018

Resensi Novel Sejarah TAN (sebuah Novel)

Resensi Novel Sejarah TAN (sebuah Novel)NAMA= Rahma Wijayanti
KELAS= X IPS 4
MAPEL= SEJARAH (peminatan)
No.absen= 24



Judul Buku              : Tan: Sebuah Novel

Penulis                     : Hendri Tedja

Penerbit                   : Javanica

Tanggal Terbit        : Februari 2016

Jumlah Halaman    : 427 Halaman


A. SINOPSIS
Saya selalu percaya bahwa kita akan lebih mudah memahami apa yang terjadi saat ini dengan cara memahami kejadian di masa lampau atau sejarah. Buku ini menceritakan kisah hidup Tan Malaka, salah satu tokoh yang paling berpengaruh (selain Soekarno, Hatta, dan Sjahrir.) pada zaman perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Tan Malaka dilupakan oleh bangsa ini, hampir tidak pernah saya dengar namanya sampai saya duduk di bangku kuliah. Kenapa Tan Malaka, tokoh yang begitu penting dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan ini seakan ingin dihapus dari sejarah? Lagi-lagi komunis alasannya. Ya, Tan Malaka Tokoh Komunis, pernah menjabat sebagai ketua umum Partai Komunis Hindia (nama partai sebelum dirubah menjadi Partai Komunis Indonesia). Semenjak kuliah saya memulai membaca artikel-artikel di internet mengenai tokoh ini, sampai terakhir saya menyelesaikan buku novel biografi sejarah ini.

B. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN BUKU

Buku ini tidak menceritakan kisah tentang Tan Malaka sampai akhir hidupnya (Tan Malaka tewas dieksekusi Tentara Indonesia di Kediri tahun 1949). Buku ini memulai kisah Tan Malaka semenjak dia diangkat menjadi tetua adat, lalu memutuskan meninggalkan gelar adat tersebut untuk bersekolah di Belanda. Diceritakan pula pertemuan Tan Malaka dengan Ki Hajar Dewantara di Belanda, kisah cintanya dengan gadis Belanda, dan bagaimana Belanda telah membentuk Tan Malaka menjadi seorang berideologi kiri.

Kembali ke Indonesia, Tan Malaka melanjutkan perjuangannya menjadi seorang guru di Deli, Sumatra Utara. Selanjutnya diceritakan saat Tan Malaka berjuang di pulau Jawa dan bertemu tokoh-tokoh komunis nasional seperti Alimin dan Semaoen yang saat itu merupakan petinggi Sarekat Islam Semarang (fakta bahwa Partai Komunis Indonesia memang awalnya merupakan pecahan dari Sarekat Islam). Buku ini berakhir sampai kisah pemberontakan Partai Komunis Hindia pada pemerintah Hindia Belanda di tahun 1926.

Hal yang menyenangkan dari buku ini adalah Tan Malaka sebagai tokoh dengan sudut pandang pertama sebagai pelaku utama. Pemilihan sudut pandang ini akan membawa pembaca merasa jauh lebih dalam masuk ke dalam pikiran Tan Malaka. Sayangnya, buku ini hanya menceritakan kisah hidup Tan Malaka sampai tahun 1926, padahal Tan Malaka masih hidup dan berjuang sampai 23 tahun berikutnya. Mungkin juga perlu referensi-referensi lain untuk lebih memahami karakter seorang Tan Malaka.

Buku ini layak dibaca sebagai awal perkenalan dengan seorang Tan Malaka. Namun masih banyak buku-buku lain yang mengisahkan perjuangan Tan Malaka, tapi saya belum baca, jadi belum bisa membandingkan. Buku ini juga dapat menambah wawasan anda mengenai perjuangan para tokoh komunis dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Ya, komunisme dan tokoh-tokohnya juga memiliki andil yang besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jadi, jangan percaya Tere Liye.

Resensi Novel Sejarah Ken Arok; Cinta dan Takhta

Resensi Novel Sejarah Ken Arok; Cinta dan TakhtaNAMA: istin Ghairiah
KELAS:X Ips 4
MAPEL: Sejarah (peminatan)
NO. Absen: 10

Resensi Novel Ken Arok
RESENSI NOVEL
Judul: Ken Arok; Cinta dan Takhta
Penulis: Zhaenal Fanani
Penerbit: Metagraf (Grup Tiga Serangkai)
Tahun: 2013
Tebal: 536 Halaman

SINOPSIS
Ken Arok lahir dari seorang perempuan bernama Ken Ndok, seorang perempuan dari Desa Pangkur yang dipersunting oleh Resi Yogiswara. Namun, selama sepuluh tahun menikah, Ken Ndok tidak pernah disentuh oleh suaminya. Resi Yogiswara tidak pernah menunaikan tugasnya sebagai seorang suami. Sementara, Ken Ndok, sebagai perempuan normal mengaharapkan kasih sayang seorang suami.

Di antara kegelisahan dan kegalauannya, suatu hari Ken Ndok bertemu dengan Gajah Para, seorang laki-laki yang memberikan harapan kebahagiaan kepadanya. Di mata Ken Ndok, Gajah Para adalah sosok laki-laki yang baik dan perhatian. Hingga hubungan mereka berdua berlanjut ke hubungan yang “serius”. Ken Ndok hamil, sementara Gajah Para tidak siap dengan segala risiko yang akan dihadapi. Karena, dia tahu bahwa Ken Ndok adalah istri sah Resi Yogiswara (halaman 13).

Gajah Para pun meninggalkan Ken Ndok dalam keadaan hamil. Sementara itu, Ken Ndok semakin khawatir dan takut dengan keadaannya. Ia merasa bersalah telah mengkhianati suaminya. Ia tidak mungkin mengaku hamil, karena suaminya tidak sedikit pun menyentuhnya sejak perkawinannya sepuluh tahun silam.

Sebuah keputusan pun diambil oleh Ken Ndok. Pada suatu malam, dia memutuskan untuk meninggalkan padepokan suaminya. Ia membawa pergi janin yang dikandungnya. Hingga pada akhirnya, dari rahimnya lahir seorang anak laki-laki. Karena merasa tidak mungkin bisa merawat anak itu, akhirnya Ken Ndok meninggalkan anaknya di sebuah kompleks pekuburan (halaman 20-21).

Adalah Ki Lembong, laki-laki yang menemukan sosok bayi yang akhirnya diberi nama Temon itu. Di bawah asuhan Ki Lembong, Temon tumbuh sebagai pemuda yang kuat dan pemberani. Temon akhirnya mengikuti jejak pengasuhnya; menjadi perampok. Temon mengenal dunia hitam jauh sebelum menginjak dewasa. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, Ki Lembong mengajak Temon menjarah dan mencuri barang orang lain (halaman 31).
Ki Lembong tahu bahwa tidak seharusnya ia menyeret Temon dalam jagat kehidupan kelam yang selama ini dijalaninya. Tapi, Ki Lembong sudah berpikir jauh, melebihi yang dipikirkan orang. Tampaknya Ki Lembong sudah memiliki firasat bahwa apa yang dijalani Temon bersamanya akan bermanfaat bagi Temon suatu saat kelak.

Akhirnya, Ki Lembong pun memberikan kebebasan kepada Temon untuk memilih kehidupan dan masa depannya. Ki Lembong sadar bahwa Temon bisa hidup mandiri tanpa harus hidup bersamanya lagi. Semula Temon enggan meninggalkan Ki Lembong. Karena, dia sadar bahwa jasa Ki Lembong yang telah membesarkannya sangat besar. Ia tidak mau meninggalkan ayah angkatnya itu. Tapi, Temon harus bisa melaksanakan apa yang diharapkan oleh ayah angkatnya (halaman 36).
Temon akhirnya meninggalkan rumah Ki Lembong dan berjalan tanpa arah dan tujuan. Ia singgah ke beberapa wanua (desa) dan bertemu dengan Bango Samparan, seorang laki-laki penjudi. Karena melihat Temon sebagai pemuda yang berani, bahkan, Bango Samparan menganggap kehadiran Temon membawa keberuntungan, akhirnya Bango Samparan mengubah nama Temon menjadi Ken Arok. Menurutnya, nama Ken Arok lebih pantas disandang oleh seorang pemuda yang pemberani.

KELEBIHAN
Zhaenal Fanani menulis novel sejarah ini dengan baik, bahasa yang lugas dan mudah dicerna. Sebagai novel berlatar sejarah jawa, namun buku ini adalah novel sehingga tidak bisa menjadi pijakan sejarah yang pas.

KEKURANGAN
Buku ini tidak cocok untuk anda yang mencari sebuah kebenaran dalam sejarah, tetapi buku ini sangat cocok bagi anda yang ingin mengambil suatu kebajikan dalam sejarah.
Night Mode