Jangan Lupa belajar dan perbanyak referensi bacaan.
Monday, May 20, 2019
Pembahasan Soal PAT Semester 2 2017/2018
Peringatan Ini hanyalah Pembahasan soal PAT tahun 2017/2018 ditujukan untuk membantu pembelajaaran siswa dan siswi dalam menghadapi PAT tahun 2018/2019 bukan kisi-kisi apa lagi kunci jawaban. Semoga bermanfaat
Wednesday, February 27, 2019
Belajar sambil bermain menggunakan game Save Us (game adaptasi dari werewolf)
Save Us adalah sebuah permainan yang saya adaptasi dari permainan yang sedang trending di hago yaitu permainan werewolf. game save us ini juga saya dapatkan dari story di instagram milik bu guru @Giaghaliyah. langsung saja ke cara permainan dari game save us ini
saya buat narasi yang ceritanya seoerti dibawah ini
Deskripsi Penyidik
Di Benua Paralel terdapat
suatu kerajaan yang sangat maju, Bernama Clevernesia. Negara ini merupakan
inspirasi bagi negara-negara lain bumi, khususnya negara Indonesia. negara
clevernesia dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Selalu
mendengarkan pendapat rakyatnya dengan saksama. Negara Clevernesia merupakan
negara dimana rakyatnya terkenal dengan kepandaiannya dan selalu rajin akan
belajar. Namun suatu ketika datanglah
pasukan evil (setan) yang menyamar
menjadi rakyat dari negara clevernesia dengan tujuan membuat bodoh dan malas
rakyat clevernesia.sehingga kerajaan clevernesia menjadi negara yang tidak maju
lagi. Tujuan evil diketahui oleh seorang penjaga dan kemudian melaporkan niatan
dari evil kepada raja. Namun, karena evil telah menyamar sebagai rakyat maka
raja tidak bisa menemukan evil tersebut. Untuk mencari evil raja meminta
bantuan kepada penyidik dan peramal untuk memberikan masukan siapa saja yang
merupakan evil dan akan dikeluarkan dari clevernesia.
Tantangan
Raja Harus Melindungi
kerajaannya dengan cara mengeluarkan evil dari kerajaannya
Permainan Berakhir
Permainan berakhir
apabila Raja telah memutuskan siapa saja evil yang menyamar sebagai rakyat.
Siapa pemenang?
Raja, penyidik dan
peramal menang
Apabila jumlah evil yang
dikeluarkan lebih banyak daripada jumlah rakyat yang dikeluarkan
Evil menang
Apabila jumlah rakyat
lebih banyak yang dikeluarkan daripada evil
Deskripsi Raja
Raja adalah seorang
oemimpin yang adil dan bijaksana. Raja mau mendengarkan pendapat dari penyidik
dan peramal serta seluruh rakyatnya.
Tugas Raja
Raja adalah pengambil
keputusan akhir untuk mengeluarkan evil
Penyidik memiliki
karakter yang selalu memberikan informasi dan bukti-bukti. Selalu berbicara
dengan mengandalkan data dan fakta yang terjadi.
Tugas Penyidik
Merekomendasikan kepada
raja tentang nama-nama rakyat yang dicurigai sebagai evil dengan cara mengamati
fakta yang terjadi kepda rakyat. Seperti berinteraksi dengan rakyat.
Deskripsi Peramal
Peramal memiliki karakter
mampu memahami perasaan, firasat dan naluri. Selalu berbicara dengan
mengandalkan keadaan hatinya.
Tugas Peramal
Memprediksi diawal
permainan siapa nama yang merupakan evil dengan melihat ekspresi wajah dan aura
yang terdapat pada rakyat.
Deskripsi Evil
Evil memiliki karakter
yang kritis dan pandai membuat analisa. Ia selalu menilai orang lain dengan
kritis.
Tugas evil
Menyamar sebagai
rakyatagar raja tidak mengeluarkannya dari desa. Evil harus mampu menuduh
rakyat lain agar raja yang justru mengusir rakyatnya sendiri.
Deskripsi Rakyat
Rakyat adalah sekumpulan
orang yang produktif. Rakyat selalu mampu mengeluarkan ide-ide kreatif. Selalu
aktif belajar dan merupakan masyarakat yang pintar.
Tugas Rakyat
Wajib belajar tentang
sejarah dan mengerjakan soal-soal sejarah. Rakyat harus berpartisipasi aktif
agar raja tidak salah menuduh rakyat yang sebenarnya bukan evil. Rakyat juga
boleh merekomendasikan kepada raja siapa yang merupakan evil.
Cara main
guru membagikan secara acak kartu untuk menentukan peran dari masing-masing siswa
kemudian setiap siswa memerankan tugasnya masing-masing.
Tujuan game
untuk melatih diskusi siswa
belajar sambil bermain
Wednesday, December 26, 2018
RESENSI Buku Presiden Prawiranegara (Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia)
Judul : Presiden Prawiranegara
Kisah 207 Hari Syafruddin
Prawiranegara
Memimpin Indonesia
Penulis : Akmal Nasery Basral
No. ISBN : 9789794336137
Penerbit : Mizan
Tanggal terbit : Maret – 2011
Tebal buku : 400
Kategori : Memoar
Walau hanya sesaat, seorang presiden tetaplah sosok yang pernah memimpin bangsa ini! Untuk itu , sosok Syafruddin Prawiranegara seyogyanya dikenang dan dihormati. Banyak yang tidak mengenal sosoknya, apalagi kaum muda saat ini. Padahal beliau sangat berjasa bagi bangsa kita, dari sisi pemerintahan dan ekonomi.
Buku ini berisi cerita yang dituturkan oleh seorang anak pribumi bernama Kamil Koto. Sungguh beruntung dia. Walau sebentar, ia sempat berada dekat bahkan memijat salah satu putra bangsa kita, Presiden Syafruddin Prawiranegara. Dengan mengharukan, Kamil Koto berbagi kisah seputar Presiden Syafruddin Prawiranegara, yang selama 207 hari menjadi nahkota bagi republik ini. Sebuah perjuangan yang mungkin terlupakan, namun sangat penting bagi kelangsungan bangsa ini.
Dalam buku ini peristiwa berdirinya PDRI teruraikan dengan detail. Sejak kedatangan Bung Hatta pada November 1948 ke rumah Syafrudin Prawiranegara di Jogya yang menugaskan Syafruddin untuk berangkat ke Bukittinggi sesuai dengan kapasitasnya selaku Menteri Kemakmuran. Saat itu hanya Yogya, Bukittinggi, dan Aceh yang bukan merupakan bagian negara federal bentukan Van Mook. Jadi tiga tempat itulah yang merupakan benteng pertahanan Republik. Pada 19 Desember 1948 terjadi Agresi Militer II. Bung Karno dan Bung Hatta mengantisipasi jika mereka tertangkap dengan membuat rencana untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatera yang akan dipimpin oleh Mr. Syafruddin Prawiranegara.
Dua buah kawat yang memberikan mandat kepada Syafruddin untuk membentuk pemerintahan darurat segera dibuat untuk dikirimkan, satu ditujukan kepada Mr. Syafrudin, dan satu lagi untuk Drs, Sudarsono selaku dubes RI di India dan Mr Alex Maramis selaku menteri Keuangan yang saat itu sedang bertugas di New Delhi. Tapi apa mau kantor Pos & Telegram serta RRI sudah dikuasai Belanda. Sehingga kedua kawat tersebut tak sempat terkirimkan
PDRI ini sngkatan dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia, dideklarasikan untuk melanjutkan pemerintahan Republik Indonesia setelah Bung Karno dan Bung Hatta ditangkap tentara Belanda beberapa hari lalu di Yogyakarta. Para pejuang terbaik bangsa kita memutuskan bahwa pemerintahan harus dilanjutkan meskipun dari tempat terasing seperti kebun teh ini.
Situasi di Bukittinggi juga kian membahayakan. Belanda nyaris berhasil menguasai kota. PDRI sepakat untuk membumihanguskan kota itu sedangkan Syafruddin dan seluruh pimpinan PDRI mengungsi ke sebuah tempat terpencil di tengah rimba Sumatera. Guna menjalankan pemerintahan. Selama dalam pengungsian pemerintahan tetap berjalan dengan melakukan banyak koordinasi melalui Radio AURI
Sosok Kamil Koto, tidak saja mengajak kita mengikuti tapak tilas perjuangan para putra terbaik bangsa kita, namun juga pergolakan bathin para anak manusia serta metamorfosis seorang preman pasar menjadi pejuang dan pengusaha sukses. Bagaimana pengorbanan tanpa pamrih dilakukan dengan nekat kuat demi sebuah tujuan mulia, KEMERDEKAAN!
Kita memang mendapat banyak hal dari buku ini, selain peristiwa sejarah yang nyaris dilupakan. Saat sekolah, saya hanya tahu Peristiwa Bandung Lautan Api dan Agresi Militer Belanda. Melalui buku ini, saya jadi tahu ada pembumihangusan Bukittinggi. Juga bagaimana peristiwa Agresi Militer Belanda dengan lebih lengkap,serta tak ketinggalan kisah bagaimana perjuangan Jendral Besar Sudirman memimpin gerilya dari atas tandu yang legendaris.
Kisah mengenai Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang mengendarai mobil menjemput Bung Hatta membuat saya terseyum. Wajar jika Bung Hatta terkejut! Status Sultan adalah sebagai raja sedangkan mereka adalah tamu. Dan biasanya seorang raja tidak mengendarai mobilnya sendiri apalagi saat itu situasi sedang genting.

Bonus kisah bagaimana sempat terjadi keributan kecil antara pemimpin bangsa kita, menunjukkan betapa kuatnya tekanan yang harus mereka hadapi. Biar bagaimana mereka juga manusia biasa yang kadang kesal dan punya amarah. Hanya tekat kuat dan semangat lah yang bsai mempersatukan mereka
Selama era kemerdekaan, Sjafruddin pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Keuangan, dan Menteri Kemakmuran. Saat menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta pada 10 Maret 1950 , beliau mengeluarkan kebijakan yang dikenal dengan nama Gunting Sjafruddin . Kebijakan itu berupa memotong uang bernilai Rp 5 lebih hingga separuh.
Menurut kebijakan itu, "uang merah" (uang NICA) dan uang De Javasche Bank dari pecahan Rp 5 ke atas digunting menjadi dua. Guntingan kiri tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai setengah dari nilai semula sampai tanggal 9 Agustus pukul 18.00.
Mulai 22 Maret - 16 April, bagian kiri itu harus ditukarkan dengan uang kertas baru di bank dan tempat-tempat yang telah ditunjuk. Lewat tanggal tersebut, maka bagian kiri itu dianggap tidak berlaku lagi. Guntingan kanan dinyatakan tidak berlaku, tetapi dapat ditukar dengan obligasi negara sebesar setengah dari nilai semula, dan akan dibayar empat puluh tahun kemudian dengan bunga 3% setahun. Kebijakan ini juga berlaku bagi simpanan di bank. Pecahan Rp 2,50 ke bawah tidak mengalami pengguntingan, demikian pula uang ORI (Oeang Republik Indonesia).
Sjafruddin menjadi Gubernur Bank Sentral Indonesia yang pertama tahun 1951. setelah sebelumnya menjabat sebagai Presiden Direktur Javasche Bank yang terakhir. Bersama Oei Beng To, beliau menulis buku Sejarah Moneter
Beliau meninggal dunia, 15 Februari 1989 di Jakarta
RESENSI NOVEL Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
RESENSI NOVEL SEJARAH
Judul : Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Penulis : Suhartono
Penerbit : Kompas
Tahun: 2013
Genre : Sosial & Politik
Tebal : 142 Halaman
ISBN: 978-979-7097-69-1
Institusi kepolisian tak henti-hentinya menjadi sorotan. Lihat saja adanya rekening "gendut" pimpinan Polri, tindakan pencucian uang, kepemilikan narkoba, isu suap kenaikan pangkat, dan persoalan-persoalan indisipliner anggota kepolisian. Ini semua semakin menjatuhkan citra Polri di mata masyarakat.
Polri seharusnya sebuah korps yang memiliki integritas, disiplin, dan profesional dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Polri seharusnya juga lembaga yang antikorupsi, antisuap, dan anti persekongkolan. Polri harus selalu menjadi garda depan dalam menindak setiap kejahatan.
Dalam perjalanan sejarahnya, Polri telah melahirkan tokoh polisi yang bersahaja, disiplin, jujur, tak mau kompromi, dan tak gampang tergiur harta. Dia tidak memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan sendiri. Dialah Hoegeng.
Tentang Hoegeng ini, mendiang mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) punya statement khas dan menarik. Menurut Gus Dur, di Indonesia ini, hanya ada tiga polisi yang jujur alias tak bisa disuap, yakni patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.
Hoegeng yang dimaksud Gus Dur adalah almarhum Jenderal (Pol) Hoegeng Iman Santoso, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) di masa transisi Orde Lama menuju Orde Baru. Ia adalah sosok teladan seorang polisi yang menjaga integritasnya sampai akhir hayat. Sebagai polisi, Hoegeng dikenal jujur, sederhana, dan tak kenal kompromi.
Hoegeng tidak aji mumpung meskipun menjadi pemimpin dan pejabat negara. Dia tidak memanfaatkan jabatannya untuk memberi surat izin bagi putranya menjadi taruna ABRI ketika itu, atau kemudahan bagi putrinya untuk sekadar lolos di perguruan tinggi negeri dengan fasilitas jabatannya. Hingga wafatnya pada 14 Juli 2004, Hoegeng tidak memiliki rekening gendut. Ia hanya memiliki uang pensiun.
Itulah sebagian kisah yang diceritakan dalam buku Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan yang ditulis dari penuturan bekas asisten dan sekretaris pribadi Hoegeng, Soedharto Martopoespito. Ketika itu, Hoegeng menjadi menteri/sekretaris presidium kabinet pada periode Maret 1966 hingga Juli 1966, hingga persinggungannya saat Hoegeng menjabat Wakapolri dan kemudian Kapolri (1968–1971).
Sang asisten baru berkisah setelah 48 tahun kemudian, setelah pensiun, dan Hoegeng sudah meninggal. Kekhasan pribadi Hoegeng sangat membekas. Tak heran kebiasaan Hoegeng terekam dengan baik. Misalnya, dia tak mau dikawal dan tidak mau mengambil jatah beras. Pribadi Hoegeng ini membuat rikuh para kolega, apalagi anak buahnya, karena perilakunya lurus dan antikorupsi.
Sang istri, Meriyati Roeslani (Meri), memiliki pengertian yang luar biasa akan prinsip hidup suaminya. Saat Hoegeng menjabat sebagai kapolri, ia tak mengizinkan istrinya menjadi Ketua Umum Bhayangkari, yang biasa dijabat istri kapolri. Hoegeng berkata kepada istrinya, "Hoegeng ini komandan polisi di Indonesia, tetapi Meri bukan komandan dari istri-istri para polisi," (halaman 91).
Kepada anak-anaknya, Hoegeng juga bersikap tegas dan tanpa kompromi. Dia tak ingin anak-anaknya hidup manja dan menggantungkan diri pada jabatan ayahnya. Untuk mengajarkan kemandirian dan kerja keras, Hoegeng mengizinkan anak-anaknya berjualan koran dan kue. Anak kedua Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng, tak pernah merasakan fasilitas negara (halaman 72).
Sebagai pejabat negara dan mantan Kapolri, Hoegeng tak memiliki apa-apa sampai wafatnya, kecuali kejujuran itu sendiri. Kisah hidup dan teladan Hoegeng Iman Santoso tentu bisa menjadi cermin perlunya sosok polisi yang bersahaja, terbuka, jujur, profesional, tanpa kompromi, dan anti-KKN. Keteladanan seorang polisi seperti Hoegeng diperlukan untuk mendorong perubahan.
Saturday, October 13, 2018
RESENSI BUKU Dari Puncak ANDALUSIA
Penulis : DR.
TARIQ SUWAIDAN
Penerbit : Zaman
Penerjamah : Zainal
Arifin
Penyunting : Chairul
Ahmad
Pembaca proof : Arif Sarwani
Pewajah isi : Nur Aly
Desainer sampul : Altha Rivan
Cetakan 1 : 2015
Jumlah halaman : 720
Terbit :
Februari 2015
Sinopsis :
Sebelum bernama Spanyol,dulunya daerah ini
bernama Andalusia.Tepatnya pada tahun 92 H/711 M,pasukan muslim mulai masuk ke
Spanyol di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad.Peperangan dan perjanjian
dilalui.Perang penaklukkan antara
pasukan Muslim dengan kaum Vandal dan Visigoth.Kaum Vandal menguasai Spanyol
sejak abad 5-10 M.Sedangkagn Kaum Visigoth yang berasal dari Jerman menguasai
selama 3 abad hingga permulaan abad ke 16 M.Dari mana kaum Vandal kemudian
daerah yang kini bernama Spanyol dinamakan Vandalusia,kemudian orang Arab
menyebutnya Andalusia. Setelah berakhirnya Dinasti Umayyah di Timur,kaum
Umayyah terus diburu oleh Bani Abbasiyah yang naik takhta.Pelarian Kaum Umayyah
inilah yang kemudian Berjaya di Eropa. Mereka mendirikan kelanjutan
Khilafah Umayyah di Andalusia dan menerangi Eropa yang sebelumnya gelap gulita.
Orang yang berperan dalam hal ini adalah Abdurrahman ad-Dakhil . Kepemimpinan Khilafah Umayyah di
Andalusia terus berlanjut hingga masa pimpinan Abdurrahman al-Nashir. Di bawah
kepemimpinannya Andalusia mencapai zaman keemasannya. Abdurrahman al-Nashir
mampu menstabilkan situasi dan kondisi Andalusia. Setelah itu dia mengokohkan
pilar-pilar pemerintahan agar dinastinya berdiri kuat.
Ada
enam raihan prestasi puncak peradaban Andalusia di bawah kepemimpinan
Abdurrahman al-Nashir. Pertama prestasi dalam sisi politik. Banyak
delegasi-delegasi negara lain yang berdatangan ke Kordoba untuk menjalin
hubungan baik dan kerja sama politik dengan Andalusia. Seperti Bizantium Timur
(Konstantinopel). Kedua, prestasi dari sisi sosial. Rakyat bisa menikmati
beragam makanan, pakaian, nyanyian dan musik. Rakyat Andalusia menjadi senang
berpesta pora. Orang yang membawa kebiasaan tersebut adalah Zaryab. Sayangnya,
karena hal ini rakyat Andalusia menjadi lalai. Mereka banyak yang lupa bahkan
jauh dari Islam. Banyak ulama yang mencoba memerangi hal ini agar Andalusia
tidak menjadi lemah dan jatuh, seperti al-Mundzir bin Sa’id al-Baluthi . Ketiga,
prestasi dalam pembangunan infrastruktur. Kordoba pada saat itu adalah kota
yang besar dan penduduknya mencapai angka setengah juta jiwa. Selain Baghdad,
tidak ada kota lain yang lebih besar dari itu. Untuk menampung masyarakat
Kordoba, dibangunlah ada 13 ribu unit rumah dan didirikan juga 3.000 masjid. Keempat,
prestasi dalam administrasi pemerintahan. Abdurrahman al-Nashir membagi Kordoba
menjadi 28 distrik. Penugasan apparat kepolisian dibagi dua waktu, malam dan
siang hari. Penugasannya juga berbeda, seperti mengawasi dan mengawal pedagang.
Sistem peradilan juga mendapat perhatian dari Abdurrahman al-Nashir. Dibuatlah
syarat bagi calon pejabat peradilan, semua etnis boleh menjadi menjadi pejabat
peradilan, tidak hanya orang Arab. Abdurrahman al-Nashir tidak menyukai
fanatisme dan nepotisme. Kelima, prestasi dari sisi ekonomi. Di bawah
kepimpinan Abdurrahman al-Nashir bidang pertanian berkembang pesat. Berbagai
tanaman buah-buahan tumbuh subur, seperti tebu, padi, zaitun, dan delima. Pada
masa inilah juga dibuat kalender pertanian untuk setiap musim yang kemudian
diadopsi oleh Eropa .
Terakhir
prestasi dari sisi budaya. Al-Nashir dikenal mencintai ilmu dan ulama. Ada 70
perpustakaan di Andalusia, dan setiap perpustakaan ada 400 judul buku. Di
Kordoba, al-Nashir mendirikan 27 sekolah gratis bagi kalangan miskin dan
jelata. Ada banyak ulama yang masyhur kala itu salah satunya adalah al-Qadhi
Abdullah Muhammad bin Muhammad, yang menimba ilmu dari 236 syaikh.
Dengan
prestasi gemilang di atas, tak heran jika Andalusia disebut sebagai mutiara
dunia (halaman 277). Andalusia telah menorehkan sejarah yang sangat berperan
atas terbentuknya peradaban Eropa saat ini. Dalam buku 720 halaman ini
DR. Tariq tidak hanya menulis masa kejayaan Umat Islam di Andalusia, tetapi
juga menulis masa-masa akhir yang terpuruk. Sebuah buku yang menarik, karena
menginspirasi dan sarat perenungan.
Nama :
ALIYATUL FITRI
Kelas
: X IPS 3
No. absen
: 03
Sekolah : SMA Negeri 1 Brebes
RESENSI Runtuhnya Hindia Belanda
Judul buku : Runtuhnya Hindia Belanda
Penulis : Onghokham
Penerbit : PT Gramedi Jakarta
Tebal Buku : 291 Halaman
Sinopsis : Saya memilih untuk menulis resensi “runtuhnya hindia belanda” karena buku tersebut adalah skripsinya saat dia menjadi mahasiswa jurusan sejarah Universitas Indonesia. Onghokham menggunakan paradigma historiografi kolonial—penulisan sejarah yang dilihat dari sudut “nederlandocentris”—bukan penulisan sejarah indonesia dari sudut indonesia centris yang lebih sering digunakan. Didalamnya banyak sekali info (fakta) sejarah yang (hampir) tidak pernah dibicarakan dalam pelajaran sejarah, seharusnya buku ini jadi bacaan wajib para pelajar Indonesia. Bagian terakhir dari buku ini sangat sangat sangat menarik karena Onghokham memberikan kronologi hari-hari terakhir pemerintah hindia belanda berkuasa dengan gaya bercerita yang dramatis.
Salah satu hal yang saya ketahui bahwa indonesia dijajah belanda bukan selama 3,5 abad tetapi sekitar seratus tahun lebih, indonesia secara resmi dijajah pemerintah hindia belanda tahun 1930 (pemberlakuan taman paksa oleh gubernur jenderal van de bosch) sampai tahun 1942—pemerintah hindia belanda menyerah kepada jepang. Namun menurut Onghokham, sejak 1942, indonesia dapat dikatakan selalu dalam keadaan “vivere pericoloso” atau transisi, revolusi, perang saudara, konfrontasi dengan belanda tentang irian, inflasi, konfiskasi milik belanda yang berarti pengambilalihan ekonomi kolonial ke tangan indonesia dengan segala akibatnya, seperti inflasi, pemotongan uang (sanering) dan lain sebagainya. Keadaan ini mungkin akan berlaku sampai 1972 (oil boom prices).
Buku ini secara jelas banyak membahas mengenai menyerahnya belanda kepada Jepang pada bulan Maret 1942 teah dianggap sebagai titik terakhir dari kekuasaan kolonialnya di Indonesia yang telah berlangsung selama tiga abad. Namun tanpa peristiwa itu pun, sesungguhnya awal dari proses runtuhnya kekuasaan colonial Belanda di Indonesia telah Nampak sejak permulaan abad ini ketika benih-benih nasionalisme Indonesia modern mulai menampakkan dirinya. Proses itu makin nyata pada pertengahan tahun 1920-an hingga awal tahun 1940-an dengan munculnya aspirasi dan gerakan-gerakan nasionalis yang dengan tegas menuntut kemerdekaan Indonesia. Situasi Internasional yang ditandai oleh Perang Dunia II, melalui dimana Jepang mengambil alih kekuasaan Belanda di Indonesia selama tiga setengah tahun, hanyalah merupakan factor yang mempercepat proses keruntuhan tersebut yang sudah berakar jauh sebelumnya.
Dalam buku ini, DR. Onghokham menguraikan proses tersebut dengan menganalisis berbagai factor yang mempengaruhinya, baik factor dalam negeri Indonesia maupun factor-faktor Internasional, termasuk juga perkmbangan politik di Negeri Belanda Sendiri.
Kekayaan informasi dan analisis kritis yang terkandung didalamnya, membuat buku ini perlu dibaca oleh mereka-mereka yang ingin mempelajari seuatu periode yang sangat menentukan dalam sejarah bangsa Indonesia.
Kekurangan : Yang menjadi kelemahan dalam buku ini adalah tidak ada pengantar dari orang ahli untuk menjelaskan secara singkat mengenai isi dari buku ini.
Kelebihan : Yang menjadi kekuatan dari buku ini adalah buku ini memang memusatkan perhatian pada masa-masa akhir dari kekuasaan Belanda di Indonesia yaitu menjelang Perang Dunia Kedua hingga saat menyerahnya Belanda kepada Jepang di Indonesia pada bulan Maret 1942, namun sebagai latar belakang diuraikan juga situasi di Hindia Belanda sejak permulaan abad 1920 hingga akhir tahun 1930-an. Sehingga bisa memberikan pemahaman bagi pembaca mengenai munculnya aspirasi-aspirasi nasionalisme Indonesia dan gerakan-gerakan nasional tahun 1920-an dan 1930-an guna mewujudkan aspirasi tersebut serta baimana “reaksi” pemerintah Hindia Belanda menghadapinya.
Kekuatan lainya adalah buku ini dilengkapi oleh gambar-gambar.
PROFIL PERESENSI
Nama : Saskia Paramitha Nugrahaeni
No.Absen : 31
Kelas : X IPS 3
Sekolah : Sma Negeri 1 Brebes
RESENSI NOVEL SEJARAH : AROK DEDES
➢ Penulis : Pramoedya Ananta Toer
➢ Penerbit : Lentera Dipantara (Jakarta)
➢ Ketebalan: 578
➢ Peresensi : Putri Aulia Lafifa
Vindy Mitavianna
➢ Sinopsis : Novel ini mencoba memberikan suatu perspektif pandang baru terhadap sejarah dengan menggambarkan Ken Arok bukan hanya seorang berandalan pemberontak, seperti yang banyak dikatakan buku pelajaran sejarah, tetapi disini diceritakan bahwa Ken Arok adalah seorang pemimpin rakyat yang tidak puas dengan pemerintahan yang menindas. Novel ini juga menggambarkan kondisi pemberontakan yang terjadi di dalam suatu negara atau kerajaan yang sarat dengan intrik politik.
➢ Kelebihan: Yang menarik dari roman ini adalah kecerdasan penulis dalam mengangkat kompleksitas permasalahan dengan lancar, mengalir dan membangun suasana. Dimulai dari latar belakang Arok, seorang sudra yang tidak jelas asal usulnya namun menjelma jadi seorang Ksatria dan Brahmana sekaligus. Arok juga merupakan perpaduan yang unikantara penganut Shiwa, Wisnu dan Budha, karena dalam perjalanan hidupnya dia belajar dari beberapa guru yang berbeda keyakinan.
➢ Kekurangan: Plot cerita Arok Dedes Pramoedya jauh berbeda dengan kisah pembuatan keris oleh empu Gandring yang memakan korban sampai tujuh turunan.
Subscribe to:
Posts (Atom)




