Wednesday, February 21, 2018

PERSIJA JAKARTA (MACAN KEMAYORAN YANG TELAH MELEGENDA SEJAK ZAMAN BELANDA)

persija juara piala presiden 2018
Sabtu,17 Februari 2018. Secara sah Persija Jakarta menjadi sang juara gelaran Piala Presiden 2018. Dengan menyarangkan tiga gol, Persija menyudahi perlawanan Bali United di partai final. EUFORIA menghinggapi Persija Jakarta. Setelah 17 tahun puasa gelar juara,

KLUB Pendiri PSSI
persija zaman belanda“Macam Kemayoran” kembali menunjukkan raungannya. Sejak berdiri sembilan dekade silam, Persija sudah menahbiskan diri sebagai salahsatu klub terbesar di negeri yang dulu bernama Hindia Belanda. Persija Jakarta yang dulu bernama Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ) bersama 6 klub lain yaitu Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB) sekarang Persib Bandung, Perserikatan Sepakraga Mataram (PSM) sekarang PSIM Yogyakarta, Vortenlandsche Voetbal Bond (VVB) sekarang Persis Solo, Madioensche Voetbal Bond (MVB) sekarang PSM Madiun, Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM) sekarang PPSM Magelang, dan Soerabajashe Indonesische Voetbal Bond (SIVB) sekarang Persebaya Surabaya. ikut mendirikan PSSI pada 19 April 1930 dengan ketua umum pertamanya Ir. Soeratin

SEJARAH 
lambang persija jakarta dulu
Persija Berdiri pada 28 November 1928, klub awalnya bernama Voetbalbond Boemipoetera (VBB). Tujuan dari berdirinya VIJ adalah untuk menyaingi perkumpulan sepakbola Batavia yang didirikan oleh kompeni (Belanda). Pertikaian sejumlah pengurusnya kemudian membuat klub itu “cerai” dari Voetbalbond Batavia en Omstraken yang didukung pemerintah Hindia Belanda dan berganti nama jadi Voetbal Indonesische Jacatra (VIJ) pada 30 Juni 1929. Menurut Suratkabar Pemandangan, 20 September 1938, VIJ didirikan dua tokoh sepakbola dari klub-klub lokal Jakarta yang sudah eksis lebih dulu, yakni Soeri (klub Setiaki) dan A. Alie Subrata (klub Setia Tuhu Enggone Rukun/STER).

Pada Mei 1942, VIJ terpaksa mengganti nama untuk menghindari pemberangusan penguasa militer Jepang terhadap segala hal berbau Belanda. Persidja, nama baru VIJ itu diambil dari terjemahan VIJ dalam bahasa Indonesia dengan ejaan di masa itu: Persatoean Sepakraga Indonesia Djakarta.

PRESTASI PERSIJA
Di lapangan, VIJ menjadi kampiun pertama Perserikatan, kompetisi antarklub amatir daerah yang digulirkan PSSI, musim 1930. VIJ mempertahankannya di musim 1933, 1934, hingga 1938 sebelum invasi Jepang. Namun prestasi Persija kurang bersuara sejak Kompetisi Perserikatan bubar. Di Liga Indonesia, Persija baru bisa juara pada 2001. Prestasi Persija justru lebih baik di level internasional: juara Ho Chi minh City Cup 1973, Brunei Invitation Cup 2000 dan 2001, dan terakhir BoostSportFix Super Cup di Malaysia 2018. Dan Piala Presiden 2018.

Eksistensi Persija dari Kandang ke Kandang
stadion persijaSebagai penghargaan terhadap perjuangan Persija, pemerintah menghadiahi klub itu “rumah” baru di Medan Merdeka Timur: Stadion Ikada. Dalam pidatonya di milad ke-30 Persija, 28 November 1958, Presiden Sukarno mengatakan, “Jika mula-mula Saudara-Saudara harus puas dengan lapangan di Pulo Piun, maka sekarang Saudara-Saudara sudah mempunyai lapangan di Merdeka Timur. Maka pesanku sekarang, tiada lain, ialah supaya Saudara-Saudara lebih giat lagi berjuang, menyusun, dan menyempurnakan organisasi Saudara-Saudara, dengan pedoman: Segala usaha harus untuk kebesaran Nusa, Bangsa dan Negara Republik Indonesia, yang Saudara-Saudara turut memproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 itu!”

Namun, pada 1960 Bung Karno kembali merelokasi kandang Persija akibat pembangunan Monas. Markas Persija pindah ke Stadion Viosveld, kemudian ganti nama jadi Stadion Menteng, di Jalan HOS Tjokroaminoto.

Puluhan tahun menghuni Stadion Menteng, Persija akhirnya pindah ke Stadion Lebak Bulus akibat muncul rencana pengalihfungsian Stadion Menteng (Stadion Persija) menjadi taman. Sialnya, Stadion Lebak Bulus pun kemudian dirobohkan untuk dijadikan Depo Mass Rapid Transit (MRT).
Alhasil, Persija harus “menggelandang” ketika menjalani laga kandang. Setelah Stadion Manahan di Solo dan Stadion Patriot di Bekasi, Stadion Gelora Bung Karno kini jadi kandang sementara Persija.
Pergantian Warna Jersey

Jauh sebelum orange, Persija bangga dgn warna merahnya.Warna yg memang sudah melekat sejak Persija masih bernama Voetballbond Indonesische Jacatra (VIJ) adalah pemberian dari para pendiri.Merah disebut-sebut sebagai representasi Indonesia, karena sejak dulu Batavia memang dipenuhi oleh bermacam-macam suku bangsa. Pada 1997 semasa pemerintahan Gubernur Sutiyoso. Bang Yos mengganti warna jersey jadi oranye kemerahan sesuai logo Pemerintah Provinsi DKI. Ada yg bilang, kalo orange adalah warna kesukaan Bang Yos, tp ada juga yg bilang orange adalah warna pemda, Lucu sebenarnya, Bang Yos mengubah warna Persija menjadi orange dgn alasan bahwa itu adalah warna kesukaannya ada juga yang berpendapat bahwa pergantian jersey menjadi oranye karena bang yos terpukau dengan timnas belanda dan ingin mengusung total football dan Perubahan warna kembali terjadi pada 1998, menjadi oranye terang.

The Jakmania
salam jakmania
Sementara, terus bertambahnya pendukung setia Persija membuat klub merasa perlu membuat wadah untuk mengorganisir mereka. Manajer Persija Diza Rasyid Ali lalu membentuk The Jackmania alias The Jak pada 1997. “The Jakmania mulai berdiri pada 19 Desember 1997. Markas dan sekretariatnya di Stadion Menteng (kini di Stadion Soemantri Brodjonegoro). Muhammad Gunawan Hendromartono alias Gugun Gondrong didaulat menjadi ketua pertamanya,” tulis Hardy R. Hermawan dan Edy Budiyarso dalam biografi IGK Manila: Panglima Gajah, Manajer Juara.

Sejak itu, salam The Jak berupa acungan telunjuk dan jempol membentuh huruf “J” mulai tenar. Inspirasinya digagas Edi Supatmo, Humas Persija..

No comments:

Post a Comment

Night Mode