Saturday, February 03, 2018

Perlawanan Daerah Banjar terhadap Kolonialisme Belanda

Perlawanan Banjar (l 859-i 863) Perang Banjar terjadi ketika Pangeran Antasari dengan 300 pra uritnya melakukan penyerangan ke tambang batu bara milik Belanda di Pengaron pada tanggal 25 April 1859. Selanjutnya, Pangeran Antasari memimpin berbagai peperangan di seluruh wilayah Kerajaan Banjar. Dengan dibantu para panglima dan pengikutnya yang setia, Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan Tanah Laut Tabalon.

Pertempuran antara pasukan Pangeran Antasari dan pasukan belanda berlangsung terus di berbagai medan dan setiap saat semakinsengit. Pasukan Belanda yang ditopang oleh bala bantuan dari Batavia di persenjatai modern, akhirnya berhasil mendesak terus pasukan Banjar. Akhirnya, Pangeran Antasari memindahkan pusat benteng pertahanannya di Muara Teweh.

Berkali kali Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah, namun beliau tetap pada pendiriannya. Ini tergambar pada suratnya yang ditujukan untuk Letnan Kolonel Gustave Verspijck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861.

"… dengan tegas kami terangkan kepada Tuan: Kami tidak setuju terhadap usul minta ampun dan kami berjuang terus menuntut hak pusaka (kemerdekaan)...”

Selain itu, Belanda pun pernah menawarkan hadiah kepada siapa pun yang mampu menangkap dan membunuh Pangeran Antasari dengan imbalan 10.000 gulden. Namun sampai perang selesai, tidak seorang pun mau menerima tawaran ini.

Setelah lama berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari tertangkap, kemudian wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, apalagi tertipu Belanda. Pangeran Antasari wafat pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 75 tahun. Menjelang wafatnya, beliau terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya setelah terjadinya pertempuran di bawah kaki Bukit Bagantung, Tundakan. Perjuangannya dilanjutkan oleh putranya yang bernama Muhammad Seman.


Perlawanan Diponegoro terhadap Kolonialisme Belanda (1825-1830)

Pangeran Diponegoro memiliki nama kecil Raden Mas Ontox wiryo. Beliau adalah putra dari Sultan Hamengkubuwono III dari Garwa Ampeyan. Beliau lahir pada tanggal 11 NoVember 1785. Ketika Diponegoro masih belia, di Keraton Yogyakarta banyak terjadi kekacauan yang diaibatkan campur tangan Belanda dalam urusan dalam negeri mataram. Pada tahun 1817, ayahnya, Sultan Hamengkubuwono Ill wafat. Diponegoro adalah anak sulung, namun bukan anak dari permaisuri sehingga tidak berhak menjadi raja Adapun yang menjadi raja adalah Mas Djarat atau Pakubuwono  Beliau sendiri kemudian memilih hidup di Desa Tegalrejo. Keputusan ini disebabkan ketidaksukaannya melihat cara hidup kaum bangsawan yang menjadi kaki tangan Belanda.

Meski Diponegoro sudah tidak tinggal di istana Yogyakarta, tetapi beliau kritis terhadap kelicikan dan kekejaman Belanda terhadap rakyat. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab beliau memutuskan untuk melawan mereka. Adapun sebab-sebab lainnya adalah sebagai berikut.

1) Sebab umum .

a) Penderitaan rakyat akibat pemungutan pajak.
b) Campur tangan Belanda dalam urusan internal Mataram.
c) Kebijakan van der Cappellen yang melarang penduduk menyewakan tanah ke swasta.
d) Kemerosotan akhlak akibat penetrasi budaya Belanda seperti minuman keras.

2) Sebab khusus

Penyebab khusus Perang'Diponegoro terjadi pada tahun 1825, yaitu ketika Belanda hendak membuka jalan baru dari Yogyakarta ke Magelang melalui Tegalrejo, tempat makam leluhur Diponegoro berada. Dalam pembukaan jalan tersebut, Belanda menancapkan patok-patok di areal makam leluhur tanpa izin. Kejadian ini tentu saja membuat Pangeran Diponegoro marah. Beliau kemudian mencabut patok tersebut dan diganti dengan tombak. Belanda menganggap tindakan pangeran Diponegoro itu sebagai tindakan pembangkangan.

Untuk menghukumnya, Residen Smisaert mengirim Pangeran Mangkubumi supaya membujuk Diponegoro meminta maaf kepada Belanda. Permintaan tersebut tentu ditolak Diponegoro, menariknya saat itu Mangkubumi ikut betgabung dengannya. Atas tindakannya itu, maka pada tanggal 20 Juli 1825 Belanda dengan dibantu Patih Danurejo IV menyerang kediaman Diponegoro. Pada kesempatan ini, beliau berhasil melarikan diri ke Selarong bersama Mangkubumi dan Pangeran Ronggo.

Dalam perjuangan melawan Belanda, beliau dibantu oleh pangeran Mangkubumi, Joyo Kusumo, Kyai Mojo, H. Badarudin, H. Mustopo, dan Sentot Alibasyah Prawirodirjo. Pasukan Diponegoro melancarkan pertempuran gerilya, dan antara tahun 1825-1826 pasukan ini dapat menguasai daerah Pacitan, Purwodadi, dan Delanggu.

Melihat perlawanan Diponegoro yang semakin hebat, Jenderal de Kock mulai melaksanakan siasat baru untuk menghadapinya, yaitu dengan menggunakan strategi Benteng Stelsel. Tujuan sistem ini adalah untuk mempersempit ruang gerak pasukan lawan dengan jalan mendirikan benteng-benteng penghadang. Taktik lain yang dijalankan Belanda adalah melalui perundingan, namun usaha ini selalu mengalami kegagalan.

Pasukan Diponegoro mulai melemah pada saat banyaknya pemimpin-pemimpin pasukan yang tertangkap oleh Belanda; seperti Pangeran Suryomataram dan Ario Prangwadono. Penambahan pasukan pun dilakukan oleh Belanda sehingga Belanda berhasil mendesak kekuatan pasukan Diponegoro. Pada perkembangan selanjutnya, satu per satu pimpinan pasukan Diponegoro berhasil dibujuk, misalnya:

1) Kyai Mojo ditangkap dan diasingkan ke Minahasa,

2) Mangkubumi menyerah pada tanggal 27 September 1829 karena keselamatan keluarganya diancam Belanda;

3) Sentot Prawirodirjo menyerah pada tanggal 17 Oktober 1829;

4) Pangeran Dipokusumo yang merupakan putra Pangeran Diponegoro menyerah pada tanggal 8 Januari 1830.

Meski menghadapi posisi yang sulit, pasukan Diponegoro belum menyerah. Usaha lain yang dilakukan Belanda adalah mengadakan sayembara penangkapan Diponegoro dengan hadiah sebanyak 20.000 ringgit, namun lagi-lagi cara ini pun gagal. Diponegoro akhirnya bersedia menerima ajakan Belanda melalui Kolonel Cleerens untuk berunding'di rumah residen Kedu di Magelang pada tanggal 25 Maret 1830. Jenderal de Kock, secara rahasia memberi instruksi untuk menangkap Diponegoro apabila perundingan gagal. Perundingan” yang diadakan pada tanggal 28 Maret 1830 ternyata memang mengalami kegagalan. Sesuai instruksi, Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Menado dan kemudian ke Makassar. Di sinilah beliau meninggal pada tanggal 8 Januari 1855 dalam usia lebih kurang 70 tahun.


Thursday, February 01, 2018

Media Pembelajaran Kuis WHO AM I? (SIapakah aku) dalam pembelajaran yang menyenangkan di dalam kelas

media pembelajaran sejarahMedia pembelajaran merupakan bagian yang penting dalam pembelajaran di kelas, khususnya kegiatan belajar mengajar dalam sehari-hari. Utnuk membuat suatu pembelajaran yang menyenangkan di dalam kelas maka diperlukan sebuah media pembelajaran yang menuntut siswa untuk aktif  

Pembelajaran saat ini juga harus di imbangi dengan teknologi informasi, penggunaan teknologi yang sudah semakin maju akan memudahkan para pengajar untuk membuat media pembelajaran mereka sendiri yang cocok dan pas dengan materi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswanya.

Untuk itu saya mencoba membuat suatu media pembelajaran yang membuat siswa aktif dengan menggunakan kemajuan teknologi computer dengan media bernama powerpoint. Pembelajaran yang saya lakukan adalah dengan membuat kuis yang saya namakan dengan kuis WHO AM I? Atau kuis siapak aku?

games kuis sejarahIsi dari kuis ini adalah sebuah siluet yang disampingnya merupakan ciri-cri dan kemudian siswa harus menjawab pada kolom jawaban dengan pertanyaan siapakah aku?, dimanakah aku?, dan apakah aku?. Dalam pembelajaran sejarah dengan materi zaman pra aksara

Pembelajaran sejarah yang dahulu adalah pembelajaran sejarah yang monoton dimana guru selalu menceritakan sepanjang waktu pelajaran ingn saya ubah dengan pembelajaran sejarah zaman now yang tidak melulu pembelajaran sejarah itu bercerita. Pembelajaran sejarah zaman now lebih mengimbangi akan hal-hal yang siswa sukai dan lebih mengedepankan siswa untuk lebih aktif.

Tata caranya saya buat beberapa kelompok kemudian masing- masing kelompok bergiliran maju untuk menebak gambar siluet yang sudah ada ciri-ciri dari manusia purba, pola hidup manusia pra aksara dan zaman batu. Untuk lebih memberikan ketertarikan siswa terhadap kuis ini maka saya gunakan reward bila ada kelompok yang bisa menjawab semua gambar tersebut.
Dengan hal ini diharapkan siswa lebih aktif dan senang dengan belajar di dalam kelas dengan pembelajaran yang menyenangkan di dalam kelas.

Untuk mendownload media pembelajarannya klik link download dibawah ini
NB :
PASSWORD : ayobuatsejarah.blogspot.com

Untuk mengisi jawaban (text box) gunakan huruf besar (KAPITAL)

Wednesday, January 31, 2018

Materi Perlawanan Daerah : Perlawanan Kesultanan Palembang terhadap Kolonialisme Belanda

Pada tahun 1811, Sultan Mahmud Badaruddin II menyerang pos tentara Belanda yang berada di Palembang. Namun ia menolak bekerja sama dengan Inggris sehingga Thomas Stamford Raffles mengirimkan pasukan untuk menyerang Palembang. Sultan Mahmud Badaruddin “ terpaksa melarikan diri dari istana kerajaan. Selanjutnya Raffles mengangkat Sultan Ahmad Najamuddin II, adik Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai raja. Pada tahun 1813, Sultan Mahmud Badaruddin Il kembali mengambil alih kerajaan, namun satu bulan berikutnya diturunkan kembali oleh Raffles dan mengangkat kembali Sultan Ahmad Najamuddin II sehingga menyebabkan perpecahan keluarga dalam Kesultanan Palembang.

Pada tahun 1818, Belanda menuntut balas atas kekalahan mereka sebelumnya dan menyerang Palembang serta berhasil ' menangkap Sultan Ahmad Najamuddin II. Setelah itu, Sultan Ahmad Najamuddin diasingkan ke Batavia. Kesultanan Palembang kembali bangkit melakukan perlawanan yang kemudian kembali dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin II. Pada tahun 1821, dengan kekuatan pasukan lebih dari 4.000 tentara, Belanda kembali menyerang Palembang dan berhasil menangkap Sultan Mahmud Badaruddin _II yang kemudian diasingkan ke Ternate. Selanjutnya, pada tahun 1821 tampil Sultan Ahmad Najamuddin III, anak Sultan Ahmad Najamuddin II sebagai raja baru Kesultanan Palembang. Pada tahun 1823, Belanda menjadikan Kesultanan Palembang berada di bawah pengawasannya sehingga kembali menimbulkan ketidakpuasan di kalangan istana. Puncaknya, pada tahun 1824 kembali pecah perang. Akan tetapi, perlawanan 'Sultan Najamuddin lll dapat dipatahkan oleh Belanda dengan mudah. Pada tahun 1825, ia Menyerah dan kemudian diasingkan ke Banda _Neira.


Materi Perlawanan Daerah : Perlawanan Ternate terhadap Kolonialisme Bangsa Portugis

Portugis pernah bersekutu dengan Ternate dalam menghadapi Tidore. Sikap Portugis yang tadinya bersahabat dengan Ternate, berubah menjadi semena-mena" setelah kepergian Spanyol dari tanah Maluku. Salah satu contohnya adalah pengambilan hasil cengkih dari Makyan oleh Portugis yang seharusnya menjadi milik Ternate dan Tidore. Selain itu, Portugis lancang mendirikan Benteng di Ambon. Padahal, pendirian benteng ini sangat ditentang oleh Sultan Hairun karena dikhawatirkan akan menjadi tempat konsolidasi kekuatannya.

Peperangan pun meletUs dengan hebatnya hingga Portugis kewalahan dan mendorongnya untuk berunding. Ternyata hal ini hanya tipu daya belaka. Dalam perundingan tersebut, Sultan Hairun terbunuh pada tahun 1570 M di Benteng Gamalama.

Sultan Baabullah selaku putra Sultan Hairun menuntut pertanggungjawaban de Mesquita. Ketika itu, Sultan Baabullah berhasil mengerahkan daerah-daerah lainnya di Maluku (kecuali Tidore) untuk melawan Portugis. Baabullah mengepung Benteng Gamalama selama lima tahun (1570-1575) secara ketat sehingga tidak seorang Portugis pun dapat memasuki atau meninggalkannya. Pengepungan ini membuat penghuni benteng kekurangan makanan dan terserang berbagai penyakit. Ditambah kenyataan,_ bantuan Portugis di Malaka tidak pernah tiba karena sejak tahun 1580 Kerajaan Portugal telah disatukan dengan Spanyol yang memusatkan kekuasaan dan perdagangannya di Manila, Filipina. Pada tahun 1575, atas dasar kemanusiaan, Baabullah mengizinkan orang-orang Portugis yang
telah sangat lemah itu meninggalkan benteng tersebut. Baabullah lalu menjadikan benteng Portugis itu sebagai istananya.

Sejak pemerintahan Baabullah, Ternate menjadi pusat perdagangan yang paling ramai di Maluku. Hak monopoli Portugis dihapus dan Ternate dijadikan pelabuhan bebas. Para pedagang Cina, jawa, Melayu, dan lainnya, dengan bebas berdagang di Ternate. Baabullah berhasil menyatukan seluruh Maluku Utara di bawah pemerintahannya. Oleh karena itu, masa kekuasaan Baabullah dianggap sebagai masa keemasan Maluku Utara, disebabkan Maluku Utara sama sekali tidak berada di bawah kekuasaan Barat.




Materi Perlawanan Daerah : perlawanan aceh terhadap kolonialisme portugis

Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, Portugis menjadi ancaman bagi kerajaan Aceh. Begitu pula sebaliknya, eksistensi Aceh yang didukung dengan kekuatan armada perangnya yang besar merupakan ancaman menakutkan bagi orang-orang Portugis di Malaka. Oleh karena itu, di antara dua kekuatan yang berdekatan ini, kontak senjata sering kali tidak terelakkan.

Penguasa Aceh ketika itu adalah Sultan Iskandar Muda. Sejak awal kekuasaan Portugis di Malaka ia tidak pernah menunjukkan upaya negosiasi dengan Portugis dan memilih jalur konfrontasi bagi pihak mana pun yang berani menjalin kerja sama dengan bangsa penjajah ini. Hal ini dibuktikan manakala Kerajaanjohor melakukan ikatan dengan Portugis. Kerajaan Johor pun berhasil dihancurkan meski dibantu oleh Portugis.

Sultan Iskandar Muda menerapkan aturan yang wajib ditaati bagi bangsa-bangsa lain yang akan melakukan perdagangan di wilayah kekuasaan Aceh. Salah satunya adalah pelarangan hubungan apa pun dengan Portugis. Ia pun memperingatkan dengan armada perangnya apabila ada yang berani mengusik kedaulatan wilayahnya maka akan diserang tanpa ampun.

Untuk mengusir Portugis dari Malaka dan mengembalikan keamanan negerinya, Sultan Iskandar Muda melancarkan serangan terhadap Portugis pada tahun 1615. Serangan ini mengalami kegagalan, namun memberikan peringatan yang tak terlupakan. Pada tahun 1629, Aceh kembali melakukan serangan secara besarbesaran. Pasukan Portugis terkepung oleh kapal-kapal perang Aceh. Ketika Portugis hampir menyerah, mereka mendapat bantuan dari Johor, Pahang, Patani, dan Goa. Atas kekuatan yang tak berimbang ini, serangan Sultan Iskandar Muda dapat digagalkan.

Kekalahan Aceh untuk yang kedua kalinya ini telah mengubah politik Sultan Iskandar Muda. Ia lebih memilih bertahan dalam mempertahankan negerinya. Selain itu, ia lebih banyak menghabiskan perhatiannya pada masalah-masalah dalam negeri.

Hasil - hasil kebudayaan Zaman Batu dan Perundagian

Zaman Batu adalah masa zaman prasejarah yang luas, ketika manusia menciptakan alat dari batu (karena tak memiliki teknologi yang lebih baik). Kayu, tulang, dan bahan lain juga digunakan, tetapi batu (terutama flint) dibentuk untuk dimanfaatkan sebagai alat memotong dan senjata. Istilah ini berasal sistem tiga zaman. Zaman Batu sekarang dipilah lagi menjadi masa Paleolitikum, Mesolitikum,Megalitikum dan Neolitikum, 

Untuk lebih mengetahui tentang zaman paleolithikum, mesolithikum, neolithikum, dan megalithikum baca juga zaman pra aksara dan zaman batu

Zaman perundagian disebut juga dengan zaman logam. Zaman ini merupakan salah satu tahapan dalam perkembangan kehidupan manusia. Pada zaman ini manusia sudah mampu membuat atau mengolah logam menjadi benda – benda yang digunakan dalam kehidupan sehari – hari

BERIKUT MERUPAKAN TABEL HASIL - HASIL KEBUDAYAAN PADA ZAMAN BATU SAMPAI PERUNDAGIAN
Megalithikum
Paleolithikum
Mesolithikum
Neolithikum
Perundagian
Waruga
Kapak Genggam
Flakes
Kapak Persegi
Nekara
Sarkofagus
Kapak Paerimbas
Kapak persegi
Kapak Lonjong
Moko
Menhir
Alat dari Tulang
Kapak lonjong
Perhiasan/ Manik-manik
Kapak Corong
Dolmen
Alat serpih
Bone culture
Baju dari kulit pohon
Bejana Perunggu
Arca Batu

Pebble
Gerabah
Arca Perunggu
Punden Berundak


Tembikar
Cendrasa



Perhiasan Dari Perunggu




Senjata dari perunggu




Gerabah




Tembikar



Night Mode